Senin, 07 November 2022

Mengapa Kurikulum Perlu Diubah: Aksi Nyata Sosialisasi Hasil Pelatihan Mandiri Merdeka Belajar








"Ganti Menteri Pendidikan, ganti kurikulum", itulah kata-kata yang sering saya dengar ketika berbicara tentang perubahan kurikulum. Pada akhirnya selalu muncul pro kontra atas perubahan kurikulum. Sejak Indonesia merdeka, hingga tulisan ini ditulis pada tahun 2022, terhitung Indonesia telah menggunakan hingga 15 kurikulum. Berikut ini penulis sampaikan kurikulum yang pernah digunakan di Indonesia: (Hadiansyah, 2022)

  1. Indonesia Merdeka: 1945
  2. Rencana Pelajaran Terurai: 1947
  3. Rencana Pendidikan Sekolah Dasar: 1964
  4. Kurikulum Sekolah Dasar: 1968
  5. Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PSPP): 1973
  6. Kurikulum Sekolah Dasar: 1975
  7. Kurikulum 1984: 1984
  8. Kurikulum 1994: 1994
  9. Revisi Kurikulum 1994 (Suplemen): 1997
  10. Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK): 2004
  11. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP): 2006
  12. Kurikulum 2013: 2013
  13. Kurikulum 2013 Edisi Revisi 2017: 2017
  14. Kurikulum Darurat Pandemi Covid-19: 2021
  15. Kurikulum Merdeka: 2022
Ternyata cukup banyak Indonesia melakukan perubahan kurikulum. Pertanyaan yang menjadi dasar pembahasan ini adalah mengapa harus berubah? 

Untuk menjawab hal tersebut, perlu kiranya kita mengingat kembali apa itu kurikulum. 
Menurut UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kurikulum diartikan sebagai perangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Menelisik dari definisi tersebut, tujuan pendidikan pada setiap zamannya tentu akan berbeda. Mari kita mengingat kembali pada masa-masa kita sekolah, yaitu sekitar tahun 2000-an. Penulis ingat betul ketika guru bertanya cita-cita muridnya, maka muridnya akan menjawab: dokter, guru, tentara, dan pengusaha.

Berangkat dari pengalaman penulis, ketika penulis bertanya cita-cita para murid yang penulis ajarkan di kelas, jawabannya pun beragam. Diantaranya ada yang menjawab ingin menjadi gamer, programmer, trader, investor, bug hunter, dan cita-cita lainnya yang tidak terpikirkan penulis ketika penulis masih berada di jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Itulah beberapa refleksi yang menunjukan mengapa kurikulum perlu diubah, karena pada dasarnya kurikulum bersifat dinamis, sama halnya seperti dunia ini yang terus berkembang. Kita harus mempersiapkan peserta didik kita untuk dapat berkembang sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zaman kita.

Berikut penulis rangkum beberapa hal mengapa kurikulum perlu diubah, diantaranya:
  1. Perubahan Iklim Global
    Salah satu isu yang saat ini ramai dibicarakan adalah adanya perubahan iklim global, yaitu terkait dengan isu global warming. Zaman dulu mungkin isu ini tidak terlalu dalam dibahas dalam pembelajaran. Namun semakin terasanya efek dari adanya perubahan iklim membuat pemangku pendidikan memandang perlunya memasukan pembelajaran terkait perubahan iklim global ke dalamnya.

  2. Teknologi Digital
    Pada zaman penulis masih di jenjang sekolah dasar dan menengah pertama, membawa HP adalah sebuah pelanggaran besar. Penulis memiliki pengalaman HP penulis disita oleh guru akibat dibawa ke sekolah. Padahal HP tersebut tidak sama sekali dimainkan, dan baru bisa diambil di akhir semester. Namun di masa ini, bahkan HP menjadi alat wajib dalam kegiatan pembelajaran, khususnya ketika masa pandemi covid-19, dimana pembelajaran dilakukan di rumah. Hal ini sangat berbeda 180 derajat dibandingkan zaman penulis. 
    Oleh karena perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, banyak hal yang dapat dipelajari melalui dunia digital, tidak monoton melalui buku teks. Peserta didik dapat memperoleh banyak informasi, dan guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan peserta didik mencari berbagai informasi yang sesuai dengan capaian pembelajaran yang diharapkan.

  3. Industri Multinasional
    Hampir seluruh negara di dunia memasuki era perdagangan bebas. Hal ini menuntut dunia pendidikan dapat mempersiapkan peserta didiknya agar dapat bersaing dengan perusahaan multinasional, yang mungkin saja membuka usahanya di negara kita.

  4. Transformasi Budaya
    Perubahan budaya dari yang bersifat tradisional ke modern terjadi dalam berbagai aspek, salah satunya dalam aspek pembelajaran. Hal ini menjadi isu penting bagaimana kurikulum dapat mengintegrasikan perkembangan teknologi ke dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran tidak lagi monoton yang terbatas pada buku teks atau peran guru, namun peserta didik dapat memperoleh banyak informasi dari berbagai sumber.

Demikian isu perubahan kurikulum yang sering menjadi pertanyaan mengenai perlu tidaknya kurikulum diubah. Penulis berpendapat bahwa kurikulum memang perlu diubah sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman. Kita sebagai pendidik perlu terus belajar dan menyesuaikan diri atas perubahan yang ada, agar dapat mempersiapkan peserta didik kita menghadapi tantangan di masa mendatang yang juga penuh perubahan. Semoga tulisan singkat ini dapat menjadi wawasan baru bagi kita semua.

Mohon kiranya bapak ibu dapat memberikan refleksi atas tulisan saya ini pada kolom komentar. 
Terima kasih.



Sabtu, 02 Juli 2022

MY CLASS: X IPS 1 2021-2022

 

I have a school where I work. It name is Prestasi Prima Senior High School. It is in East Jakarta. There are many classes there, but there is a favorite one. That is X IPS 1 where I am placed as a home room teacher. There are some reasons why I like the class. The first reason is their achievements. For example, there is a student here who gets high results every semester. His results are the highest in the X grade. Not only him, but other students have also gotten high grades as well. The 2nd through 12th ranks got the final scores 86 to 88, whereas in other classes students who get the score ranges, will have the rank ranges from 1 to 10. They are very ambitious to be champions. 


The second reason is their parents who are very cooperative to me as their home room teacher. When I talk about their children’s cases, developments, or actions, they will support me, and tell them when they get home. They do not defend their children when they are guilty. Everything I talk about that is related to the students' developments in school, in the parents’ whatsapp group, they will forward their children. 


The third reason is about their parents' kindness. They think that I am very careful with their children, so they try to give me some presents. They did it when my school had to give the middle and last semester report. Almost all of the parents wanted to give it to me, but I said to them before that I will not accept their presents because I am worried about justice in educating students. I am afraid that if students' parents don't give me the presents, their children will not be educated the same as the students’ parents who give me the presents. 


The fourth reason is the trouble male students. Why do I like him very much? It is not because I like the troublemaker students. It is because they train me to be the best home teacher in my school. As for information, I sometimes get achievements because my class has done well. But sometimes they make me feel ashamed because of their behavior towards the teacher. I must teach them several times as counseling guidance, and report to the vice principal of student affairs.


Because of them, I know how to solve students’ problems even very badly. They are like balancers in my class.  Those are about my class that I like very much. I like them not only because of their good attitude, but also because of their bad attitude. They make my life dynamic, and like a challenge for me to be the best teacher. I think I will not be the best teacher if I have never faced those problems: “good and bad problems” simultaneously.

ARTI PENTING PENGUASAAN BAHASA INDONESIA BAGI KAUM PEMUDA


Bahasa memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Melalui bahasa, manusia dapat berkomunikasi, berinteraksi, dan mengembangkan diri. Begitu juga dengan bahasa Indonesia, ia memiliki banyak peran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahasa Indonesia berperan penting dalam pendidikan karakter di Indonesia, karena menggunakan bahasa Indonesialah kegiatan pendidikan dilakukan, dimana dalam sistem pendidikan nasional, pendidikan karakter dilakukan secara terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran. Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar akan berpengaruh pada kepribadian, watak, dan karakter. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa peran bahasa Indonesia adalah sebagai perwujudan karakter penerus bangsa yang baik. 

Selain berperan sebagai sarana pendidikan karakter di Indonesia, bahasa Indonesia juga memiliki peran sebagai bahasa persatuan. Pernyataan tersebut dapat dikaitkan dengan sejarah lahirnya bahasa Indonesia itu sendiri, yaitu berasal dari bahasa Melayu, tepatnya Melayu Riau. Dikutip dari Hardjoprawiro (2005), beberapa alasan bahasa Melayu diterima sebagai bahasa persatuan diantaranya: (1) kedudukannya yang telah berabad-abad sebagai bahasa penghubung antar pulau, (2) bentuk bahasanya yang luwes dan mudah dipelajari, dan (3) tidak mengenal tingkatan-tingkatan seperti bahasa Jawa, Sunda, dan Madura. Berhubungan dengan beberapa alasan tersebut, dan penerapannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, akhirnya pada tahun 1928 dalam kongres pemuda yang dihadiri oleh aktivis dari berbagai daerah, bahasa Melayu diubah namanya menjadi bahasa Indonesia, dan diikrarkan dalam sumpah pemuda sebagai bahasa nasional. 

Bahasa Indonesia kini digunakan sebagai bahasa resmi di Indonesia yang digunakan dalam proses pendidikan. Keberadaan bahasa Indonesia bukan berarti mengabaikan keberadaan bahasa daerah yang secara turun-turun dipelajari, bahkan dipelajari di beberapa sekolah sebagai muatan lokal. Namun bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa persatuan, dimana meskipun tidak setiap orang yang berkunjung ke suatu daerah mampu berbahasa daerah, namun mereka tetap dapat berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia. Itulah makna bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Bahasa Indonesia juga kini menjadi mata pelajaran wajib yang dipelajari dari jenjang Sekolah Dasar bahkan sampai jenjang perguruan tinggi. 

Meskipun demikian, dalam era globalisasi yang membuat dunia seolah-olah tanpa sekat, semakin marak penggunaan bahasa Inggris dalam berbagai lini kehidupan. Meskipun efek ini belum terlalu signifikan mempengaruhi eksistensi kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama, namun pada beberapa lini kehidupan telah terpengaruh. Sebagai contoh, ditemukan kasus beberapa sekolah internasional di Indonesia yang tidak mengajarkan bahasa Indonesia, padahal berdasarkan aturan pemerintah mewajibkan hal tersebut. Akibatnya banyak lulusan dari sekolah tersebut, dimana tidak hanya warga berkebangsaan asing saja yang menempuh pendidikan di sekolah tersebut tidak mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Tren kemajuan zaman yang semakin menempatkan bahasa Inggris pada posisi yang lebih superior dikhawatirkan dapat menggerus peran bahasa Indonesia sebagai bahasa utama. 

Selain permasalahan globalisasi yang menempatkan bahasa Inggris dalam posisi superior, penggunaan bahasa gaul yang mulai membuat para pemuda terbiasa dikhawatirkan dapat mengancam posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Permasalahannya kedua hal tersebut bukan pada mereka yang mempelajari bahasa Inggris atau bahasa gaul, lalu menerapkannya dalam kehidupan. Bahasa hanyalah sebagai sarana komunikasi untuk menyampaikan gagasan atau ide kepada lawan bicara. Namun permasalahan yang sesungguhnya adalah ketika para pemuda tidak lagi bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi sehari-hari, bahkan pada beberapa kasus yang ekstrim menolak untuk mempelajari bahasa Indonesia karena dirasa tidak relevan dengan perkembangan zaman. 

Hal tersebut menjadi catatan tersendiri bagi pemerintah sebagai pembuat kebijakan. Pemerintah diharapkan menindak dengan tegas lembaga-lembaga yang seharusnya mengajarkan atau menerapkan bahasa Indonesia, namun dengan sengaja tidak melakukannya. Penindakan tegas dapat dilakukan melalui pemberian surat peringatan bahkan penutupan izin usaha. Tindakan yang dapat dilakukan pemerintah terkait kebanggaan dalam menggunakan bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan terus mewajibkan bahasa Indonesia dipelajari selama siswa menempuh pendidikan di Indonesia, bahkan sampai pada jenjang perguruan tinggi, baik pada tingkat sarjana bahkan pada tingkat doktoral dengan substansi materi pembelajaran yang relevan dengan jenjang mereka. Pemerintah juga diharapkan terus melakukan update atas unsur-unsur serapan asing yang belum ada sebelumnya agar pandangan atas bahasa Indonesia yang semakin kuno dapat hilang dari pemikiran generasi pemuda. Diharapkan dengan beberapa tindakan yang dilakukan sesuai dengan permasalahan yang dipaparkan, karakter bangsa Indonesia yang disatukan melalui bahasa Indonesia, yang telah dirumuskan pada sumpah pemuda sebagai bahasa nasional dapat terus berjalan seiring dengan perkembangan zaman. Bahasa bersifat dinamis, untuk itu pemerintah perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.


METODE BERMAIN PERAN DALAM UPAYA MENUMBUHKEMBANGKAN KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA INDONESIA PADA ANAK USIA DINI

Keterampilan berbicara merupakan hal mendasar yang harus dimiliki semua orang, termasuk pada anak usia dini. Keterampilan berbicara diperlukan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, sebagai sarana untuk berkomunikasi. Pada anak usia dini, ruang lingkup penguasaan keterampilan berbahasa yang diharapkan adalah menjawab pertanyaan yang lebih kompleks; menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi yang sama; berkomunikasi secara lisan; memiliki perbendaharaan kata; serta mengenal simbol-simbol untuk persiapan membaca, menulis, dan berhitung; menyusun kalimat dalam taraf rendah; memiliki banyak kata-kata untuk mengekspreksikan ide kepada orang lain; serta melanjutkan sebagian cerita/dongeng yang telah diperdengarkan (Peraturan Menteri No. 58, 2009).

 

Namun pada kenyataannya, masih terdapat banyak anak usia dini yang belum mampu mengekspresikan idenya kepada orang lain. Sebagai contoh, dalam proses pendidikan guru yang mengajar di PAUD pernah mendapati saat anak-anak diminta untuk menceritakan pengalaman pribadinya, mereka mengalami kesulitan. Anak-anak pada usia dini belum mampu mencapai lingkup penguasaan yang diharapkan pemerintah. Hal ini bisa disebabkan kesalahan penggunaan metode pembelajaran yang digunakan. Umum dijumpai proses pembelajaran bersifat satu arah, seperti menggunakan metode ceramah secara penuh. Padahal dalam keterampilan berbahasa, diperlukan peran aktif anak agar dapat berlatih mengekspresikan idenya. Permasalahan ini perlu diatasi dengan mencari metode alternatif yang telah teruji. Salah satu metode yang dapat digunakan ada metode bermain peran.

 

Bermain peran dikenal dengan sebutan bermain pura-pura, fantasi, make believe, atau simbolik. Bermain peran dapat ditandai oleh penerapan cerita pada objek dan mengulang perilaku menyenangkan yang diingat oleh pemain. Dalam bermain peran, anak berindak, berlaku, dan berbahasa seperti orang yang diperankannya. Dibandingkan dengan metode ceramah, metode ini lebih menyenangkan karena anak-anak akan merasa seperti sedang bermain.

 

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, ditemukan hasil bahwa anak-anak lebih tertarik dan merasa sangat senang Ketika metode ini diterapkan, meskipun tanpa disadari mereka telah banyak belajar keterampilan berbahasa. Berdasarkan referensi penelitian lainnya, juga ditemukan perbedaan rataan tingkat keterampilan berbicara antara kelompok anak yang menggunakan metode ceramah dengan metode bermain peran. Hal ini bisa dikarenakan lebih tingginya tingkat partisipasi anak pada metode bermain peran. Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan secara tersirat bahwa metode pembelajaran yang cocok untuk anak usia dini untuk mengembangkan keterampilan berbahasa adalah metode yang memberikan anak-anak kesempatan untuk berpartisipasi.

 

 

Referensi Jurnal

Metode Bermain Peran (Role Playing) dalam Upaya Menumbuhkembangkan Keterampilan Berbicara Bahasa Indonesia pada Anak Usia Dini di TK Bhayangkari 17 Cimahi. Jurnal EMPOWERMENT, Vol. 2, No. 2, September 2013. ISSN 2252-4738.

Tentang Penulis




Dody Setiawan, S.Pd. lahir di Jakarta, 05 September 1998, merupakan anak kedua dari pasangan bapak Dedy Achmad dan Rusny Januna. Nomor telepon dan alamat email yang bisa dihubungi yaitu 081299761940 dan doddy.setiawan77.ds@gmail.com .

Riwayat pendidikan Dody Setiawan, S.Pd. adalah SDN Manggarai Selatan 03 Pagi, SMPN 265 Jakarta, dan SMAN 43 Jakarta program ilmu-ilmu sosial. Selanjutnya Dody Setiawan, S.Pd. melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi di Universitas Negeri Jakarta program Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi. Dody Setiawan, S.Pd. merupakan mahasiswa penerima program Bidikmisi dan beasiswa dari Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (ILUNI FE UI).

Saat ini Dody Setiawan, S.Pd. aktif bekerja sebagai guru ekonomi di SMA Prestasi Prima. Karena hobinya dalam ilmu pengetahuan yang tinggi, Dody Setiawan, S.Pd. kembali menempuh jenjang pendidikan sarjana program studi Sastra Inggris di STBA Pertiwi.