Keterampilan berbicara merupakan hal mendasar yang harus dimiliki semua orang, termasuk pada anak usia dini. Keterampilan berbicara diperlukan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, sebagai sarana untuk berkomunikasi. Pada anak usia dini, ruang lingkup penguasaan keterampilan berbahasa yang diharapkan adalah menjawab pertanyaan yang lebih kompleks; menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi yang sama; berkomunikasi secara lisan; memiliki perbendaharaan kata; serta mengenal simbol-simbol untuk persiapan membaca, menulis, dan berhitung; menyusun kalimat dalam taraf rendah; memiliki banyak kata-kata untuk mengekspreksikan ide kepada orang lain; serta melanjutkan sebagian cerita/dongeng yang telah diperdengarkan (Peraturan Menteri No. 58, 2009).
Namun pada kenyataannya, masih terdapat
banyak anak usia dini yang belum mampu mengekspresikan idenya kepada orang
lain. Sebagai contoh, dalam proses pendidikan guru yang mengajar di PAUD pernah
mendapati saat anak-anak diminta untuk menceritakan pengalaman pribadinya,
mereka mengalami kesulitan. Anak-anak pada usia dini belum mampu mencapai
lingkup penguasaan yang diharapkan pemerintah. Hal ini bisa disebabkan
kesalahan penggunaan metode pembelajaran yang digunakan. Umum dijumpai proses
pembelajaran bersifat satu arah, seperti menggunakan metode ceramah secara
penuh. Padahal dalam keterampilan berbahasa, diperlukan peran aktif anak agar
dapat berlatih mengekspresikan idenya. Permasalahan ini perlu diatasi dengan
mencari metode alternatif yang telah teruji. Salah satu metode yang dapat
digunakan ada metode bermain peran.
Bermain peran dikenal dengan sebutan
bermain pura-pura, fantasi, make believe, atau simbolik. Bermain peran
dapat ditandai oleh penerapan cerita pada objek dan mengulang perilaku
menyenangkan yang diingat oleh pemain. Dalam bermain peran, anak berindak,
berlaku, dan berbahasa seperti orang yang diperankannya. Dibandingkan dengan
metode ceramah, metode ini lebih menyenangkan karena anak-anak akan merasa
seperti sedang bermain.
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya,
ditemukan hasil bahwa anak-anak lebih tertarik dan merasa sangat senang Ketika
metode ini diterapkan, meskipun tanpa disadari mereka telah banyak belajar
keterampilan berbahasa. Berdasarkan referensi penelitian lainnya, juga
ditemukan perbedaan rataan tingkat keterampilan berbicara antara kelompok anak
yang menggunakan metode ceramah dengan metode bermain peran. Hal ini bisa
dikarenakan lebih tingginya tingkat partisipasi anak pada metode bermain peran.
Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan secara tersirat bahwa metode
pembelajaran yang cocok untuk anak usia dini untuk mengembangkan keterampilan
berbahasa adalah metode yang memberikan anak-anak kesempatan untuk berpartisipasi.
Referensi Jurnal
Metode Bermain Peran (Role Playing) dalam
Upaya Menumbuhkembangkan Keterampilan Berbicara Bahasa Indonesia pada Anak Usia
Dini di TK Bhayangkari 17 Cimahi. Jurnal EMPOWERMENT, Vol. 2, No. 2, September
2013. ISSN 2252-4738.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar